|
Penulis Sebut Pencuri Si 'Peminjam Tanpa Permisi' |
|
|
|
|
Friday, 11 December 2009 07:48 |
|

Ahmad Mansyur Suryanagara (77), penulis buku 'Api Perjuangan' II yang draftnya hilang, berharap pencuri segera mengembalikan bukunya. Menurutnya, 'peminjam tanpa permisi' itu ingin membaca isi buku sebelum terbit.
"Mudah-mudahan 'peminjam tanpa permisi' itu, setelah selesai membacanya dikembalikan," ujar Mansyur melalui pesan singkatnya kepada detikbandung, Jumat (11/12/2009).
Dia juga meminta agar 'peminjam tanpa permisi' tersebut agar cepat sadat, karena, jelas Mansyur, penerbit berniat untuk menerbitkan buku tersebut sesegera mungkin. "Penerbit bertekad segera mungkin, sekitar awal Tahun Baru Islam, bulan Muharram dengan Rabiulawal 1431," ujarnya.
Lebih lanjut Mansyur mengatakan, dalam buku tersebut pembaca akan disuguhkan tahapan atau perjuangan para pendahulu dalam memperjuangkan islam. "Doakan dapat terbit seindah mungkin, pembaca akan dapat membaca tahapan perjuangan para pendahulu dengan hati dan pikiran intelektual yang terberkahi," tutur Mansyur.
Saat ini, Mansyur aktif melakukan roadshow ke sejumlah daerah di Indonesia untuk mempromosikan buku 'Api Sejarah' jilid I yang terbit November lalu. Saat ini buku seharga Rp 125 ribu tersebut sudah laku terjual lebih dari 10 ribu eksemplar.
Buku ini terbilang kontroversi karena di dalamnya mengungkap deislami atau penurunan peran islam yang terjadi sebelum kemerdekaan hingga pemerintahan SBY saat in |
|
Last Updated on Friday, 11 December 2009 07:51 |
|
Draf Dicuri, 'Api Sejarah' Jilid II Terancam Gagal Terbit |
|
|
|
|
Friday, 11 December 2009 05:39 |
|
Rencana penerbitan Buku Api Sejarah Jilid II karya Ahmad Mansur Suryanegara pada Februari 2010 mendatang terancam gagal. Sebab, draf buku tersebut hilang dicuri saat diskusi Buku Api Sejarah Jilid I di Sukabumi pada Rabu kemarin (9/12/209).
Pada diskusi buku Api Sejarah jilid satu ini, selain dihadiri Ahmad Mansur, juga oleh Wali Kota Sukabumi Muslikh Abdusyukur. Diduga hilangnya draf buku tersebut terjadi saat puluhan orang meminta tanda tangan pada Mansur.
"Seperti biasa setelah acara, banyak yang menghampiri Pak Mansyur untuk minta tanda tangan di bukunya," terang Chef Editor Salamadani Publishing Tasaro GK saat dihubungi detikbandung melalui telepon selulernya, Kamis (10/12/2009).
Salamadani Publishing merupakan penerbit Buku Api Sejarah jilid I, rencananya jilid II Pun akan diterbitkan oleh Salamadani.
Diungkapkan Tasaro, Mansur memang selalu membawa-bawa draf bukunya itu kemana-mana. "Dalam acara itu dia bilang kalau bukunya yang jilid II itu lebih heboh. Banyak pertanyaan yang dijawab di buku itu," tambahnya.
Saat acara itu, dikatakan Tasaro, Mansur meletakkan bukunya di atas meja. Namun mansyur begitu kaget ketika melihat buku itu sudah tidak ada. "Bisa dibilang Pak Mansyur syok," sambungnya.
Tasaro mengaku penerbit saat ini juga dalam keadaan panik, sebab buku yang seharusnya terbit pada Februari nanti masih belum jelas nasibnya. "karena kami belum punya soft copynya," terangnya.
Buku Api sejarah diungkapkan Tasaro memang menarik perhatian pasar, dalam sebulan saja, buku itu telah masuk dalam cetakan kedua. Buku seharga Rp 125.000 itu sudah terjual lebih dari 10.000 buku.
Sumber : http://bandung.detik.com/read/2009/12/10/152421/1257904/486/draf-dicuri--api-sejarah--jilid-ii-terancam-gagal-terbit |
|
Last Updated on Friday, 11 December 2009 08:16 |
|
Penerbit Yakini Pencuri Bukan Orang yang Iseng |
|
|
|
|
Friday, 11 December 2009 05:43 |
|

Pencurian draf Buku 'Api Sejarah' Jilid II diyakini bukanlah perbuatan orang iseng semata. Penerbit buku 'Api Sejarah' Salamadani Publishing menduga kuat jika pencurinya adalah pihak yang merasa terganggu dengan isi buku karya Ahmad Mansur Suryanegara itu.
Chef Editor Salamadani Publishing Tasaro GK menyatakan pihaknya menduga kuat pelakunya bukan orang iseng, namun pihak yang terganggu isi buku itu.
"Kalau memang mau mencuri buku saja, kenapa tidak ngambil yang sudah jadi? Kenapa drafnya?," ujarnya saat dihubungi detikbandung, Kamis (10/12/2009).
Rencananya Buku Api Sejarah Jilid II akan diterbitkan pada Februari 2010 mendatang. Namun dengan adanya kejadian ini, penerbit belum mengetahui kapan buku ini bisa diluncurkan.
Pada buku Api Sejarah jilid dua ini, Mansur membahas tentang deislamisasi melalui upaya menghapus peran umat Islam dari berbagai rangkaian sejarah di Indonesia sejak masa orde lama sampai masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sementara pada buku jilid I, mengupas dari sudut pandang bagaimana pengaruh Islam dan ulama dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Buku ini diakui penerbitnya menimbulkan kontroversi.
Mansur menuliskan tentang kapan masuknya Agama Islam ke Indonesia. Menurut Prof Dr Buya Hamka dan KRH Abdullah bin Nuh, Islam sebenarnya sudah masuk nusantara pada abad ke-7. Bukan abad ke-13 dan setelah runtuhnya kerajaan-kerjaan Hindu dan Buddha seperti banyak ditulis dalam buku sejarah.
Sebab, pada abad ke-7 berdasarkan Berita China Dinasti Tang sudah ada masyarakat di pesisir barat Sumatera yang beragama Islam dan ditemukannya nisan ulama Syaikh Mukaiddin di Baros, Tapanuli. Dan, keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha bukan akibat dominasi kerajaan Islam, misalnya Kerajaan Majapahit hancur setelah diserang Raja Girindrawardhana dari Kediri bukan oleh Kerajaan Demak.
Mansur juga mengungkapkan fakta-fakta menyengat dan dilupakan tentang sejarah perjuangan organisasi Islam dalam sejarah kebangkitan sampai kemerdekaan. Dia ungkap secara gamblang. Dalam buku itu, dijelaskan istilah nasionalisme dan Indonesia merdeka sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh Central Sjarikat Islam (CSI) pada kongres nasional pertama di Bandung pada 1916.
Soal peringatan Hari Lahir Boedi Oetomo ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional pun digugat Mansur. Sumber : http://bandung.detik.com/read/2009/12/10/163221/1257971/486/penerbit-yakini-pencuri-bukan-orang-yang-iseng |
|
Last Updated on Friday, 11 December 2009 05:45 |
|
Penerbit dan Penulis Langsung Lapor Polisi |
|
|
|
|
Friday, 11 December 2009 07:02 |
|

Hilangnya draf Buku 'Api Sejarah' Jilid II karya Ahmad Mansur Suryanegara sudah dilaporkan ke pihak kepolisian di Sukabumi maupun Polda Jabar. Namun, hingga kini belum ada perkembangan. Hal itu disampaikan dari perwakilan penerbit, Chef Editor Salamadani Publishing Tasaro GK, kepada detikbandung, Kamis (10/12/2009). "Saat tahu buku itu hilang, kita langsung lapor ke polres di Sukabumi," ujarnya.
Tak hanya itu, Mansur juga melaporkan kasus ini ke Polda Jabar.
Sementara itu dihubungi terpisah, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Dade Achmad mengaku belum menerima informasi dari Direskrim Polda soal laporan hilangnya draf buku Api Sejarah Jilid II milik Mansur.
"Saya belum terima laporannya, jadi saya belum berani bicara. Ya bisa saja melapor ke sini, meski kejdiaannya di Sukabumi," ujarnya.
Hilangnya draf buku 'Api Sejarah' Jilid II terjadi saat diskusi buku Api Sejarah jilid I di Pemkot Sukabumi, Rabu kemarin (9/12/2009). Saat Mansur asyik melayani permintaan tanda tangan dari puluhan peserta diskusi, draf buku jilid II yang di simpan di meja hilang. |
|
Last Updated on Friday, 11 December 2009 07:08 |
|
Ditulis Secara Manual, Penerbit Tak Pegang Soft Copy |
|
|
|
|
Friday, 11 December 2009 04:40 |
|

Dalam menulis, Sejarawan dari Unpad Ahmad Mansur Suryanegara sering menggunakan cara manual. Karenanya, pihak penerbit pun was-was sebab tak memegang soft copy Buku 'Api Sejarah' Jilid II. Mansur sendiri syok saat tahu draf bukunya itu hilang dicuri.
"Draf itu banyak manualnya, fotonya juga ditempel," terang Chef Editor Salamadani Publishing Tasaro GK saat dihubungi detikbandung melalui telepon selulernya, Kamis (10/12/2009).
Karena itu, Tasaro mengaku penerbit saat ini juga dalam keadaan panik, sebab buku yang seharusnya terbit pada Februari nanti masih belum jelas nasibnya.
"Apalagi Pak Mansur, bisa dibilang syok saat tahu draf bukunya hilang," ujarnya.
Penerbit menurutnya masih akan terus berupaya untuk mendapatkan draft buku tersebut. Tasaro meminta pencurinya dapat segera menyerahkan draft buku tersebut. "Tolong kembalikan, kita tidak akan apa-apa," katanya.
Hilangnya draf buku 'Api Sejarah' Jilid II terjadi saat diskusi buku Api Sejarah jilid I di Sukabumi, Rabu kemarin (9/12/2009). Saat Mansur asyik melayani permintaan tanda tangan dari puluhan peserta diskusi, draf buku jilid II yang di simpan di meja hilang.
"Dalam acara itu dia bilang kalau bukunya yang jilid II itu lebih heboh. Banyak pertanyaan yang dijawab di buku itu," ujar Tasaro.
Buku Api Sejarah Jilid I diungkapkan Tasaro memang menarik perhatian pasar, dalam sebulan saja, buku itu telah masuk dalam cetakan kedua. Buku seharga Rp 125.000 itu sudah terjual lebih dari 10.000 buku.(ern/ern) Sumber : http://bandung.detik.com/read/2009/12/10/154814/1257925/486/ditulis-secara-manual-penerbit-tak-pegang-soft-copy |
|
Last Updated on Friday, 11 December 2009 05:39 |
|
Mansur Suryanegara: Kalau Ulama Sudah Bicara, DPR Bisa Tumbang! |
|
|
|
|
Thursday, 19 November 2009 07:03 |
|

Berbincang dengan seorang profesor sejarah seperti membuka cakrawala dan melihat dunia membentang di hadapan kita. Artinya, selalu ada kalimat-kalimat inspirasi penuh hikmah yang dapat membawa kita seakan dengan masa lalu. Apalagi seorang sejarawan yang concern dengan Islam dan pengaruh Islam dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, berbicara dengannya seperti mendengarkan kisah tak berujung, membuat setiap orang nyaman duduk di samping menyimak petuah darinya.
Profesor Ahmad Mansur Suryanegara adalah sejarawan yang pernah memicu kontroversi dengan mengatakan bahwa pahlawan nasional, Pattimura adalah seorang muslim. Meskipun kritik kerap mampir kepadanya, seperti kritik yang menyatakan bahwa sumber penulisan buku-bukunya adalah sumber sekunder yang tak layak dijadikan sumber penulisan buku sejarah, ia pun tak ambil pusing dan melenggang dengan berkarya sebanyak mungkin.
Salah satu buku yang telah selesai digarapnya adalah Api Sejarah yang merupakan catatan empat bab berisi sejarah lengkap masuknya Islam ke nusantara hingga pengaruh tokoh-tokoh ulama dalam pergerakan nasional dan kemerdekaan Indonesia. Tak hanya itu, Mansur juga menyentil deislamisasi yang kini melekat pada umat Islam namun tak dirasakan oleh sebagian besar muslim. Reporter eramuslim.com beruntung dapat mewawancarai beliau di sela-sela diskusi buku Api Sejarah di Gramedia Matraman, Rabu (4/11/09).
Bagaimana Profesor memandang sejarah dan peran ulama saat ini?
Sejarah itu seperti buatan manusia, dan ada sejarah yang menurut skenario Allah. Jadi, kalau ulama itu di dalam Alquran diibaratkan seperti antara buih dengan air, mana yang menyembuhkan? Jawab Allah, yaitu air. Antara buih dengan permata, mana yang dipentingkan manusia, yang besar atau yang kecil? Jawab Allah, permata yang kecil. Itulah ulama. Ulama itu walaupun dia ada di bawah, tidak di permukaan tetapi dialah yang menjadi panutan oleh rakyat. Walau dia kecil, dialah yang menggerakkan seluruh peristiwa sejarah itu. Tidak diperkirakan tetapi itulah yang menjadi kenyataan bahwa mereka kelompok kecil dari minoritas yang mempunyai aktivitas yang tinggi.
Tapi, wujudnya sendiri bagaimana? Sekarang belum kelihatan, tapi yang akan datang, akan kelihatan. Keterkejutan keadaan seperti Nabi Muhammad saw keluar dari gua batu yang secara sendiri memulai sejarah, dari diri sendiri, dengan istri, dengan teman-teman yang tadinya tidak percaya, namun beliau punya kekuatan yang luar biasa. Wahyu itulah yang menjadi landasan sejarah, apapun yang terjadi di luar sekarang, itu hanya kesementaraan. Ada satu garis jarak yang sudah diprogram dari langit, yang ini bagaimana-bagaimana, pasti terjadi. Cuma peristiwanya sedikit demi sedikit, tapi akan jadi satu gerakan yang nanti semua orang pasti terkejut.
Seperti pada tanggal 9 Dzulhijjah, semua orang kumpul di Mekkah, berjuta orang, padahal lebih dari kekuatan itu kalau diizinkan. Tiada mungkin satu kekuatan yang bisa melakukan seperti itu kecuali doa seorang wanita, Hajar sehingga sejarah di dalam Alquran dituliskan permulaan semuanya adalah wanita. Al-Fatihah adalah ummul quran dan alquran menunjukkan binatang, sapi betina, kemudian Ali-Imran menceritakan tentang Maryam, meskipun tidak punya suami tetapi bisa membuat sejarah, melahirkan seorang Nabi Isa, dan punya kekuatan yang luar biasa, pada surat kelima, dapat menurunkan makanan dari langit. Walaupun Zakaria seorang nabi, shalatnya di Baitullah, tapi tidak bisa membuat di masjid ada makanan, tapi setelah ada Maryam, dia bertanya," Hai Maryam, dari mana makanan ini?" jawabnya, "Allah yang mengirimkannya." Wanita itu luar biasa. Wanita bisa membuat tanah tandus di Mekah jadi sumur zamzam. Kemudian, Maryam yang tidak punya suami bisa membuat sejarah.
Apakah ulama sekarang kehilangan ruhnya untuk berjuang dan lebih banyak bersikap pragmatis?
Sekarang ini ulama sedang penyesuaian media juang, dengan menyesuaikan keadaan pesantren supaya dimaui masyarakat sekitarnya. maka dia bentuk studinya disamakan dengan SD, SMP, SMA, tetapi kita bisa melihat kerja para ulama itu, tidak pernah kita melihat ada pengangguran pesantren. Itu kekuatan dari ulama, pembina masjid, pembina pesantren, beda malam-malamnya. Mereka itu kalau malam, shalat malam. Kalau yang lain kan, tidur yang paling baik adalah 8 jam.
Apa bentuk perjuangan ulama saat ini?
Sekarang ini juga pejuang, menjaga generasi muda dari gerakan-gerakan yang membaratkan. Barat itu membuat puasa yang baik itu bukan siang, malam. Makanya dibuat buka pagi itu, breakfast. Kita kan buka sore, mereka pagi. Kalau kita qiyamullail, berdiri mendirikan shalat, kalau mereka duduk di gereja. Kalau kita mengatakan Ankabut, laba-laba, laba-laba itu lemah, maka mereka membuat Spiderman.
Jika ada yang mengatakan ulama saat ini tidak vokal, bagaimana tanggapan Bapak?
Sekarang ini bukan mengkrritik, tapi berlomba-lomba berbuat, jadi bukan menampakkan secara vokalitas, dengan bicara, tapi lebih menampakkan perbuatan. Ulama sekarang, lihat saja misalnya Gontor, tidak dipedulikan oleh pemerintah, tapi masyarakat mengaguminya, lihat saja gedungnya. Sekarang kita lihat gedung-gedung yang dibangun gereja-gereja itu dibangun oleh Belanda, tapi ulama-ulama itu dengan kekuatan umat membangun kekuatan umat itu, mencerdaskan umat dengan kekuatan umat, itu luar biasa sebenarnya, tetapi cara kita melihat itu selalu dari segi negativitas. Tetap ada cara-cara yang digunakan oleh Snouck Hurgronje. Islam itu pasti punya lawan-lawan dan cara yang digunakan untuk melawan Islam seringkali dengan Islam sendiri.
Bagaimana hubungan sejarawan dengan pemerintah?
Sejarawan juga mendapat intervensi dari pemerintah, kita harus mengajar seperti apa yang dipolakan pemerintah. Kalau ada yang mengulang-ulang, itu kan pembenaran, tapi saya kan tidak mau begitu saja mengulang. Salah satu di antaranya saya, ini hanya salah satu, tapi mungkin banyak sekali.
Apa peran ulama dalam memberikan pemahaman sejarah bangsa yang benar kepada umat? Ulama-ulama itu dalam gaya menjawabnya selalu dengan penuh kehalusan, baik, jadi tidak pernah emosi, tapi physical keluar. Buya Hamka membuat lembaga sejarah, lalu di situ diproduk suatu karya yang mengangkat sebenarnya apa sejarah itu, lalu bukan berarti namanya media ummat, lalu isinya media umat. itu banyak sejarah yang begitu. Maka Buya Hamka mencoba memasarkan pemikiran umat Islam yang sebenarnya sehingga ada gerakan melawan sejarah. Simatupang menganjurkan gerakan melawan sejarah. Itu bahasa Simatupang yang artinya melawan Islam. Walaupun tidak langsung.
Kongkretnya bagaimana?
Kita harus tahu bahwa dalam dunia politik itu termasuk Quran itu selalu indirect. Judulnya Al-Baqarah, kenapa tidak jihad? Tapi isi di dalamnya jihad. Kita sering menggunakan istilah seperti 'kyai miskin', tapi sebenarnya yang mau disampaikan itu yang mulia siapa di dalam pesannya itu. Pekerjaan ini seperti tidak mengubah tapi perubahan itu dari tangan Allah. nanti akan ada suatu pergerakan seperti kalau Anda lihat umpamanya 1 Syawal, begitu diumumkan oleh ulama, seluruh gerakan mudik itu terjadi dengan dahsyat. Itu tidak diatur dari pemerintah, betapa hebatnya kekuatan orang bisa mengosongkan Jakarta. Itu karena ibukota ditarik oleh ibu-ibu kampung, rahim-rahim ibu kampung itu dibuatnya lebih dahsyat. itu kalau Allah sudah menentukan detiknya ulama hanya menyampaikan 1 Syawal adalah silaturahim, ada bahasa itu saja, sangat sederhana, tidak perlu variasi bahasa, tetapi kekuatan lahiriahnya bisa mengguncangkan kekuasaan yang teratur.
Ulama tidak punya dana yang besar, tapi kalau sudah bicara, DPR bisa tumbang. Oleh karena itu, pesan dari Alquran, jangan engkau memalingkan pandanganmu dari ulama. Dalam surat Al-Kahfi disebutkan, jangan engkau terpesona, takjub dengan orang-orang di luar kita dengan materinya, dengan anak buahnya, Allah menguji mereka dengan materi dan anak buahnya dan mati jadi orang kafir.
Ada dikotomi peran ulama dengan politik?
Kemungkinan ada, kemungkinan tidak. Kalau yang namanya MUI, kan, itu lain, di bawah pemerintah, eksistensialnya ada izin dari pemerintah. Jadi ada lembaga-lembaga yang melakukan dukungan dan tidak melakukan dukungan.Kenapa harus berhenti karena penghargaan? Muhammadiyah itu 'fastabiqul khairat' dari unsur bid'ah. Jadi, hanya satu kata, tapi punya kekuatan. Muhammadiyah punya berapa rumah sakit, sekolah, dan sebagainya. Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/bincang/mansur-suryanegara-kalau-ulama-sudah-bicara-dpr-bisa-tumbang.htm |
|
Last Updated on Thursday, 19 November 2009 07:10 |
|
Banyak Sejarah Umat Islam tak Dimasukkan Sejarah Nasional |
|
|
|
|
Wednesday, 18 November 2009 03:51 |
|
Sejarawan Islam Mansur Suryanegara menegaskan sejarah bukan ilmu baku yang tidak bisa diubah selama-lamanya. Menurutnya, jika ditemukan fakta-fakta baru yang menyangkut sejarah itu sendiri, penulisan sejarah tersebut harus ditinjau kembali dan perbaharui sesuai temuan tersebut. Saat ini penulisan sejarah harus ditinjau kembali, karena ada beberapa fakta sejarah yang menyangkut umat Islam yang tidak dimasukkan dalam sejarah nasional. Padahal itu fakta, kata Mansur Suryanegara usai bedah buku terbarunya, Api Sejarah di Jakarta. Organisasi Budi Utamo yang dijadikan sebagai tonggak kebangkitan nasional, dijelaskannya, sebenarnya tidak tepat. Karena organisasi tersebut sangat elitis, khusus untuk masyarakat Jawa dan menolak cita-cita persatuan nasional. Sementara sebelumnya, telah ada organisasi yang bersifat nasional: Syarikat Islam, tuturnya. Tidak heran, beberapa pendiri organisasi tersebut akhirnya keluar dari Budi Utomo. Ditambahkannya, tidak sedikit ulama-ulama yang terlibat dalam pergerakan nasional, perumus Pancasila dan Proklamasi yang tidak disebut-sebut dalam buku-buku sejarah. Disebut kurang nasionalis, karena faktor agamanya, ujarnya. M Natsir seorang pejuang, misalnya, butuh waktu lama untuk digelari pahlawan. Yang terbaru adalah pengakuan batik dari UNESCO sebagai warisan budaya milik Indonesia. Dijelaskannya, yang pertama kali mempopulerkan batik dan menjajakanya ke masyarakat umum adalah Pendiri Syarekat Dagang Islam, KH Samanhudi. |
|
Last Updated on Wednesday, 18 November 2009 03:54 |
|
Menguak Sejarah yang Tak Terungkap |
|
|
|
|
Thursday, 12 November 2009 08:36 |
|
PENULIS dan Sejarawan Prof. Ahmad Masyur Suryanegara (kanan) pemperlihatkan buku terbaru karyanya "Api Sejarah" bersama dua pembahas Ketua MUI Jabar K.H. Hafidz Utsman (kiri) dan Sesepuh Jawa Barat Tjetje Hidayat seusai acara Diskusi Buku di Aula Pikiran Rakyat Jln. Soekarno-Hatta Bandung, Selasa (10/11).

BANDUNG, (PR).- Peran ulama, para santri, dan dunia Islam pada umumnya, banyak tak tercatat dalam sejarah Indonesia. Padahal, atas peran merekalah, Indonesia dapat menjadi negara yang merdeka seperti sekarang. Banyaknya kepentingan dari penguasa membuat Islam sengaja tak dimunculkan sejak masa penjajahan dahulu hingga sekarang.
"Apalagi, kebanyakan ulama kita terlalu ikhlas. Mereka tak mau muncul. Setelah berjuang, mereka kembali ke pesantren dan lingkungannya untuk berbakti," kata sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara (77) di Aula Redaksi Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno-Hatta No. 147 Kota Bandung, Selasa (10/11). Ia mengemukakan pendapatnya dalam acara kupas buku "Api Sejarah" yang ditulisnya dan diterbitkan Salamadani Pustaka Semesta. Tampil sebagai panelis politikus senior Tjetje Hidayat Padmadinata dan Ketua MUI Jabar K.H. Hafidz Utsman.
Buku Api Sejarah yang ditulis Mansur mengemukakan sejumlah fakta sejarah yang tak pernah diungkap selama ini. Buku itu diperkuat dengan bukti-bukti kesejarahan tentang peran aktif ulama dan santri dalam upaya menegakan NKRI. Penulisan buku ini juga didasarkan keinginannya mengembalikan budaya Islam pada porsi yang sesungguhnya dalam sejarah Indonesia.
Buku ini mengungkapkan fakta-fakta baru yang sangat fenomenal dan kontroversial. Salah satunya adalah tentang pertanyaan tentang apakah Kapitan Pattimura dan Si Singamangaraja XII adalah seorang Muslim yang berjuang atas nama fi sabilillah? Atau tentang Boedi Oetomo yang justru tak menghendaki persatuan bangsa Indonesia dan tidak mencita-citakan kemerdekaan Indonesia, selain seringnya mereka mendiskreditkan Rasulullah saw. dalam pertemuan-pertemuannya.
Ditenggelamkan
"Islam telah berbuat banyak, tetapi banyak ditenggelamkan. Ulama banyak diberangus karena selalu dianggap pemberontak. Saya hanya ingin porsi yang wajar karena memang begitu seharusnya," kata Mansur yang saat mengerjakan buku mengaku tak pernah batal wudu. Menurut dia, banyak penerbit yang menolak menerbitkan tulisannya ini. Setelah diterbitkan pun, banyak pro dan kontra yang ditujukan kepadanya. Meskipun demikian, Mansur mengaku berani bertanggung jawab atas semua fakta yang diungkapkan dalam bukunya itu.
Acara kupas buku Api Sejarah mendapatkan respons dari para peserta yang memenuhi Aula Redaksi "PR", kemarin. Hadir pula sejumlah ulama sekaligus pelaku sejarah, salah satunya pendiri Pontren Babussalam, Ciburial, K.H. Muchtar Adam (72) yang menyayangkan banyaknya sejarah yang justru telah diputarbalikkan.
Sementara itu, K.H. Hafidz Utsman berpendapat bahwa sejarah tak dapat dimanipulasi. "Mudah-mudahan buku ini dapat membuka gerbang sejarah, meskipun saya yakin para ulama tak ingin peran mereka diangkat untuk dibesar-besarkan," kata Hafidz.
Senada dengan Hafidz, politikus senior Tjetje Hidayat Padmadinata menyambut baik adanya penulisan sejarah dengan ideologi Islam itu. "Harus diubah masyarakat dari paradigma lisan menjadi tulisan dan ini yang dilakukan Pak Mansur," kata Tjetje. Sumber : http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=109343 |
|
Last Updated on Thursday, 12 November 2009 09:09 |
|
Terobosan Menulis (Lagi!) dari Salam Learning Center |
|
|
|
|
Wednesday, 30 September 2009 04:37 |
|
KEMBALI Salamadani membuat program terobosan untuk mendukung pembangunan masyarakat membaca dan masyarakat menulis (reading & writing society). Program ini adalah pelatihan dasar menulis berbiaya murah dengan benefit luar biasa. Program hanya khusus diperuntukkan bagi sekolah/pesantren/madrasah(guru dan siswa/santri), perguruan tinggi (dosen dan mahasiswa), komunitas literasi (klub buku dan perpustakaan), asosiasi guru/dosen dengan sistem pelatihan kolektif. Program Terpilih : - Dasar Penulisan Buku Anak Kategori Fiksi (DPBA Fiksi)
- Dasar Penulisan Buku Anak Kategori Nonfiksi (DPBA Nonfiksi)
- Dasar Penulisan untuk Anak dan Remaja (DPAR)
- Dasar Penulisan Akademis (DPA)
- Dasar Wirausaha Menulis (DWM)
- Dasar Penulisan dan Penyuntingan (DPP)
(Poin 1, 2, 4, 5 dan 6 dapat diikuti oleh guru/dosen, siswa/santri SMA/MA/mahasiswa, anggota komunitas/asosiasi, sedangkan poin 3 khusus diikuti oleh anak (SD/MI kelas tinggi: 4-6) dan anak SMP/MTs). Program pelatihan menggunakan standar kurikulum/pelatihan menulis internasional: prewriting, drafting, revising, editing, dan publishing. Metode pelatihan merupakan gabungan teori dan praktik. Fasilitator : - Bambang Trim; penulis lebih dari 100 judul buku, editor lebih dari ratusan karya penulis, serta praktisi perbukuan Indonesia yang telah menekuni bidang perbukuan selama 15 tahun.
- Tasaro GK: penulis fiksi berbakat penghasil karya best seller, mantan jurnalis di Group Jawa Pos, kini menjabat sebagai Chief Editor di Salamadani.
- Ali Muakhir: penulis buku anak paling produktif peraih Rekor MURI, pendiri jasa penerbitan Line Production, dan menjadi editor ahli di Salamadani.
- Krisna: editor buku anak dan mantan jurnalis di MQ Media khusus anak, penulis beberapa karya untuk anak.
- Ely Syarifah: editor karier dan dosen editing di Universitas Padjadjaran, kini menjadi senior editor di Salamadani
Biaya Murah dan Multibenefit Belum ada pelatihan menulis berkualitas, bersertifikat, dan berpeluang seperti Program Salam Learning Center. Pembiayaan dilakukan secara kolektif sebagai berikut: - Kelas DPBA Fiksi Rp3.000.000 untuk peserta maksimal 25 orang
- Kelas DPBA Nonfiksi Rp3.000.000 untuk peserta maksimal 25 orang
- Kelas DPAR Rp2.500.000 untuk peserta maksimal 20 orang
- Kelas DPA Rp3.000.000 untuk peserta maksimal 25 orang
- Kelas DWM Rp3.000.000 untuk peserta maksimal 25 orang
- Kelas DPP Rp3.000.000 untuk peserta maksimal 25 orang
Multibenefit: - Biaya pelatihan kolektif tergantikan dengan buku senilai @Rp100.000 untuk 20-25 orang peserta.
- Peserta mendapatkan sertifikat resmi dari Salam Learning Center dan materi tercetak (handout).
- Peserta akan mendapatkan kiriman artikel penulisan-penyuntingan setiap minggu selama Oktober-November 2009 via email.
- Peserta berhak mendapatkan 2 kupon Dinar Salam berupa potongan harga 30% apabila berbelanja buku-buku terbitan Salamadani di Salam Book House senilai Rp50.000 ke atas.
- Peserta berhak mendapatkan CD materi pelatihan dalam format pdf seharga Rp20.000.
- Peserta terbaik mendapatkan bingkisan buku senilai Rp100.000 dari Penerbit Salamadani.
- Kunjungan ke penerbitan-percetakan-jasa penerbitan-toko buku untuk melihat secara langsung bisnis penerbitan (khusus penyelenggaraan di Salam Book House).
- Ilmu dan keterampilan penulisan-penyuntingan langsung dari ahlinya dan kesempatan berkonsultasi terbuka luas.
Buku Pokok Pelatihan: - Favorite Stories for Boys karya Ali Muakhir
- Favorite Stories for Girls karya Ali Muakhir
- Monomo karya Tasaro
- Kisahku karya Tim Penulis Salamadani
- My Story karya Tim Penulis Salamadani
- Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup karya Gola Gong
- Taktis Menyunting Buku karya Bambang Trim
Tempat, Waktu, dan Durasi Peserta secara kolektif dari satu sekolah, PTN/PTS, komunitas literasi, ataupun asosiasi lewat koordinator mengajukan surat permohonan penyelenggaraan pelatihan SalaMenulis dengan ketentuan tempat sebagai berikut: Tempat dapat disediakan oleh Salam Learning Center di Salam Book House dengan biaya gratis (fasilitas: LCD, ruang berpendingin, dan kapasitas memadai untuk 20-25 orang). - Tempat dapat disediakan oleh peserta (in-house) dengan biaya tambahan untuk akomodasi (transportasi) fasilitator sebesar Rp300.000 untuk wilayah Bandung dan Rp600.000 untuk wilayah Jakarta.
- Waktu pelatihan untuk program ini hanya berlaku pada Oktober-November 2009 dengan penyelenggaraan maksimal 4 program dalam satu minggu. Durasi pelatihan efektif adalah 4 jam (half day) untuk setiap program.
Syarat dan Ketentuan : - Peserta secara kolektif lewat koordinator mengirimkan surat permohonan, berikut waktu dan tempat serta daftar peserta melalui email ke:
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
atau faks ke 022-5221670.
- Peserta melakukan pembayaran biaya training sesuai dengan program yang dipilih berikut tambahan biaya akomodasi jika penyelenggaraan secara in-house setelah ada konfirmasi waktu dan tempat dari Pihak Salamadani.
- Peserta maksimal 20-25 orang, tidak diperkenankan melebihi kuota peserta. Peserta yang kurang dari kuota 20-25 orang tetap dibebankan biaya yang sama.
- Untuk penyelenggaraan in-house di tempat peserta atau di tempat lain, Salam Learning Center diperkenankan gelar meja (open table) untuk menjual produk-produk buku Salamadani.
- Permohonan disampaikan selambat-lambatnya satu minggu sebelum tanggal pelaksanaan.
- Salam Learning Center (SLC) menyediakan fasilitas gratis untuk ruang pelatihan dan perangkat audio visual (LCD projector). SLC tidak menyediakan minuman dan makanan ringan selama pelatihan. Untuk itu, peserta dapat membawa sendiri atau membeli di sekitar Salam Book House. Peserta juga disarankan membawa laptop/notebook jika memiliki.
- Salam Learning Center menyediakan sertifikat resmi dan bahan training tercetak (hardcopy). SLC tidak melayani copy file melalui flash disk. Bahan lengkap dalam format pdf disediakan dalam bentuk CD dengan harga Rp20.000.
- Sesi pelatihan diperkenankan untuk direkam secara audio-visual dengan mempertimbangkan kenyamanan peserta yang lain.
- Pelatihan hanya diperuntukkan bagi sekolah, perguruan tinggi, komunitas literasi, klub buku, perpustakaan, dan asosiasi guru/dosen. SLC hanya melayani surat resmi dari institusi/lembaga/asosiasi dengan alamat lengkap dan jelas.
--- (CATATAN: untuk sementara program ini hanya mencakup wilayah Bandung dan Jakarta) Peluang Berbagi Melalui CSR SLC membuka program ini bagi perseorangan maupun perusahaan (BUMN/Swasta) yang ingin berbagi guna menghadiahkannya kepada sekolah, perguruan tinggi (fakultas/jurusan), komunitas, dan asosiasi guru/dosen terpilih sebagai wujud tanggung jawab sosial. Para alumni dari satu sekolah ataupun perguruan tinggi dapat mempersembahkan program ini kepada almamaternya. Perusahaan dapat menjadikan program ini sebagai program CSR berkualitas dan berbiaya murah. Informasi Lebih Lanjut: 1. Buka akses ke www.penerbit-salamadani.com 2. Hubungi Farah/Nunung di 022-5222052 |
|
Last Updated on Wednesday, 30 September 2009 09:32 |
|
API SEJARAH: Sebuah Gugatan Historiografi Nasional |
|
|
|
|
Monday, 10 August 2009 06:55 |
|
AHMAD Mansur Suryanegara menerbitkan buku baru berjudul “Api Sejarah: Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan NKRI”. Dosen luar biasa di jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung dan UNPAD ini kembali membuka persoalan sejarah yang ditutup oleh rezim Orde Baru. Sebagai informasi, buku “Api Sejarah” ini isinya membongkar sejarah yang disembunyikan, khususnya kezaliman kaum nasionalis dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, penghilangan jejak peran ulama dan organisasi Islam dalam menegakkan NKRI, dan membongkar perselingkuhan kaum priyayi dengan penjajah Belanda. Pasti sangat mengagetkan. Mengapa? Karena jika dilihat dari tinjauan ilmu sejarah, karya Pak Mansur ini bisa disebut sebagai historiografi politik Islam Indonesia versi sejarawan lokal. Kebenaran isinya, tentu sangat tergantung dari data, fakta, dan analisa serta tafsir yang digunakannya. Pastinya akan “mengagetkan” mereka yang selama ini menjadikan buku-buku sejarah versi Nugronotosusanto, Asvi Warwan, Sartono Kartodirjo, dan lainnya, sebagai buku yang valid dalam sejarah Indonesia. Mengapa mengagetkan? Karena isi buku ini menggabungkan antara sejarah Indonesia versi nasional dengan versi Islam. Salah satunya “gugatan” tentang hari kebangkitan nasional dan pembeberan beberapa organisasi pergerakan Indonesia yang sebenarnya tidak berjuang untuk Indonesia, tetapi untuk penjajah. Si penulis menguraikan, didirikannya Boedi Oetomo adalah untuk menandingi gerakan umat Islam yang bernama Jamiat Choir (hal.319) dan Serikat Dagang Islamiyah di Bogor sebagai tandingan dari Syarikat Dagang Islam (hal.326) yang kehadirannya mengkhawatirkan eksistensi perekonomian dan kepentingan imperialisme Belanda. Juga tafsirnya tentang sang saka “Merah Putih” sebagai bendera Rasulullah saw. Bahkan, Ahmad Mansur Suryanegara juga menyajikan fakta tentang penghinaan terhadap Rasulullah saw yang dilakukan Partai Indonesia Raja (Parindra) pimpinan Dr.Soetomo dengan menurunkan artikel di Madjalah Bangoen, 15 Oktober 1937 (hal.508). Lebih banyak lagi persoalan sejarah yang dibongkar dalam buku Api Sejarah ini. Pendeknya, buku yang lebih dari 600 halaman ini dapat disebut semacam penulisan ulang sejarah Indonesia baru atau membongkar historiografi nasional Indonesia yang ditulis para sejarawan istana. ***
BERIKUT ini ada beberapa komentar tentang buku tersebut:
“Buku yang seharusnya menggugah kesadaran berbangsa pada pangkalnya… Prof. Mansur telah mendudukkan sejarah sungguh sebagai sejarah: bukan hanya catatan peristiwa masa lalu, melainkan peristiwanya itu sendiri. HISTORIA VITAE MAGISTRA itulah yang dipertahankan guru besar yang selalu saya kagumi ini.” (N.Syamsuddin Ch.Haesy, kolumnis dan pegiat pemberdayaan masyarakat) "Sejarah memang sarat dengan kepentingan. Itu sebabnya, banyak manipulasi di dalamnya. Sayangnya, kesadaran sejarah di kalangan Umat Islam sangat rendah. Padahal, dahulu kita memiliki sejarahwan-sejarahwan unggul: Thabari, Mas'udi, Ibn Hisyam, Ibn al-Atsir, Ibn Khaldun, dan masih banyak lagi. Karena itu, buku yang ditulis Prof. Mansur sangat berharga untuk menjernihkan sejarah. Semoga banyak lagi sejarahwan Islam yang memiliki kepedulian seperti Prof. Mansur." (Prof.Dr.H.Afif Muhammad,M.A, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
"Sejarah adalah pohon dan pohon yang tumbuh di hutan belantara tetapi punya identitas, sering orang yang tidak seidentitas mau memahami pohon tsb, akhirnya yang dipahami adalah cabang dan rantingnya, seangkan inti batangnya tidak, sejarah harus diakhronik tidak cukup dengan sinkronik, bukan begitu guruku?" (Aam Abdillah, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
“Prof. Mansur Suryanegaraa adalah seorang sejarawan simbolis. Ia seorang pembaca fakta simbol yang handal yang tak ada duanya di kalangan sejarawan, bahkan di seluruh dunia. Fakta sejarah di tangannya menjadi berwarna, unik, hidup, menunjukkan sisi-sisi yang tak terbaca dari sebuah fakta dan oleh karenanya sering mengejutkan. Ini yang tidak dimiliki para sejarawan lain. Sebagai pembaca simbol, ia sangat peka dengan fakat-fakta historis dan menangkapnya secara simbolik. Tapi, ini menghadirkan resiko. Bacaannya menjadi sering tak dimengerti oleh kalangan sejarawan konvensional. Buku dahsyat ini, tentu sangat historis dan berbasis tradisi ilmiah. Tapi, oleh Pak Mansur, dilengkapi dan dihidupkan dengan tatapan simbolik tersebut, menjadikannya menjadi enak dibaca, perlu bahkan wajib bagi yang ingin sejarah Indonesia sesungguhnya. Ala kulli hal, saya tahu, buku ini disuguhkan dengan penuh takzim oleh beliau kepada segmentasi masyarakat yang sangat dihormatinya; Ulama. Untuk merekalah mahakarya ini didedikasikan. Generasi pembawa risalah nubuwah yang membawa pencerahan masyarakat melalui kebenaran dan spiritual enlightenment!" (Moeflich Hasbullah, Asisten dan murid Prof.Mansur SN di Jurusan SPI UIN Bandung)
“Alhamdulillah, Kang Mansur yang sudah saya kenal sejak 82-an kini sudah melahirkan buku tentang sejarah versi beliau. Saya yakin-meski belum baca-dalam bukunya itu terdapat materi-materi yang senantiasa belaiu sampaikan dalam kuliah-kuliah LMD ata SII di Masjid Salman, ITB dan tempat lain. Tentang, betapa ummat Islam Indonesia menduduki peran yang penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Bahkan, peristiwa-peristiwa penting sejarah bangsa Indonesia dimulai dengan gerakan-gerakan dari kalangan Islam, khususnya pesantren dengan para kiyainya, semisal pemberontakan Cimareme, Garut yang mengawali perlawanan terhadap Belanda, khususnya di Jabar atau pemberontakan K.H. Zainal Mustofa di Singaparna yang mengilhami Supriyadi di Blitar untuk memberontak terhadap Jepang. Selamat pak Mansur, gaya penyampaian lisan materi sejarah Anda akan selalu saya kenang dan buku Anda ini merupakan sumbangan besar terhadap khasanah sejarah Islam di Indonesia dan tetunya sejarah Indonesia.” (Oman Abdurahman, Pegiat Studi Kebudayaan dan Sunda)
“Mungkin adalah sebuah referensi baru, dan bahkan gebrakan pembenar dari suatu kesalahan akut yang mungkin terjadi. Namun disisi lain, informasi dari sinopsis yang seolah berusaha membuka fakta tentang jungkir balik keadaan sebenarnya tanpa dukungan dari sejarawan lain (bahkan bertentangan) akan menjadi sekedar teriakan kaum minor sakit hati saja, sebab sebagaimana telah berlaku bahwa unus testis nulus testis. Betul, apalagi tak terkira jasanya bila catatan pembenar sejarah mampu meluruskan yang bengkok, memberikan penghormatan layak pada pelaku sejarah, dan mencabut bintang dari dada pihak yang tidak pantas mendapatkannya. Namun, jika hanya dari satu saja ahli sejarah, walaupun beliau dianggap memiliki kapasitas seperti itu akan tetap saja bagi sebagian pihak lain merupakan suatu langkah tendensius yang subyektif. Semoga ada sejarawan lain yang dapat mendukung informasi serupa.” (
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
)
“Saya termasuk yang mengagumi sosok sejarawan mumpuni yang satu ini, selain Pak Anhar Gonggong. Dan darinya tidak jarang keluar fakta sejarah yang berbeda kalau tidak bertentangan dengan yang versi 'resmi' pemerintah. Tidak ada yang namanya kalangan minor yang sakit hati, selain dugaan dan sangkaan saja karena memang sejarawan itu ada dua; sebagaimana juga profesi lainnya, yang objektif apa adanya dan tidak bisa dibeli dan yang lawannya...” (
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
) |
|
Last Updated on Monday, 10 August 2009 07:03 |
|
|