salam

 
Highlight

Newsflash

PT Salamadani Pustaka Semesta meraih 2 penghargaan sekaligus dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas perelohan rekornya yaitu Peluncuran Buku Rohani Terbanyak sebanyak 9 Buku Pada Waktu Bersamaan & Penyelenggara Peluncuran Buku Rohani Terbanyak sebanyak 9 Buku Karya Ustad Yusuf Mansur Pada Waktu Bersamaan.

Info/Sales:

Marketing :
Promosi :
Redaksi :
Toko Buku :

 

Home Imprint Salamadani API SEJARAH: Sebuah Gugatan Historiografi Nasional
API SEJARAH: Sebuah Gugatan Historiografi Nasional PDF  | Print |  E-mail

 

AHMAD Mansur Suryanegara menerbitkan buku baru berjudul “Api Sejarah: Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan NKRI”. 
Dosen luar biasa di jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung dan UNPAD ini kembali membuka persoalan sejarah yang ditutup oleh rezim Orde Baru. 

Sebagai informasi, buku “Api Sejarah” ini isinya membongkar sejarah yang disembunyikan, khususnya kezaliman kaum nasionalis dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, penghilangan jejak peran ulama dan organisasi Islam dalam menegakkan NKRI, dan membongkar perselingkuhan kaum priyayi dengan penjajah Belanda. 

Pasti sangat mengagetkan. Mengapa? Karena jika dilihat dari tinjauan ilmu sejarah, karya Pak Mansur ini bisa disebut sebagai historiografi politik Islam Indonesia versi sejarawan lokal. Kebenaran isinya, tentu sangat tergantung dari data, fakta, dan analisa serta tafsir yang digunakannya. Pastinya akan “mengagetkan” mereka yang selama ini menjadikan buku-buku sejarah versi Nugronotosusanto, Asvi Warwan, Sartono Kartodirjo, dan lainnya, sebagai buku yang valid dalam sejarah Indonesia. 

Mengapa mengagetkan? Karena isi buku ini menggabungkan antara sejarah Indonesia versi nasional dengan versi Islam. Salah satunya “gugatan” tentang hari kebangkitan nasional dan pembeberan beberapa organisasi pergerakan Indonesia yang sebenarnya tidak berjuang untuk Indonesia, tetapi untuk penjajah. 

Si penulis menguraikan, didirikannya Boedi Oetomo adalah untuk menandingi gerakan umat Islam yang bernama Jamiat Choir (hal.319) dan Serikat Dagang Islamiyah di Bogor sebagai tandingan dari Syarikat Dagang Islam (hal.326) yang kehadirannya mengkhawatirkan eksistensi perekonomian dan kepentingan imperialisme Belanda. Juga tafsirnya tentang sang saka “Merah Putih” sebagai bendera Rasulullah saw.
Bahkan, Ahmad Mansur Suryanegara juga menyajikan fakta tentang penghinaan terhadap Rasulullah saw yang dilakukan Partai Indonesia Raja (Parindra) pimpinan Dr.Soetomo dengan menurunkan artikel di Madjalah Bangoen, 15 Oktober 1937 (hal.508). Lebih banyak lagi persoalan sejarah yang dibongkar dalam buku Api Sejarah ini.  

Pendeknya, buku yang lebih dari 600 halaman ini dapat disebut semacam penulisan ulang sejarah Indonesia baru atau membongkar historiografi nasional Indonesia yang ditulis para sejarawan istana. ***

BERIKUT ini ada beberapa komentar tentang buku tersebut:

“Buku yang seharusnya menggugah kesadaran berbangsa pada pangkalnya… Prof. Mansur telah mendudukkan sejarah sungguh sebagai sejarah: bukan hanya catatan peristiwa masa lalu, melainkan peristiwanya itu sendiri. HISTORIA VITAE MAGISTRA itulah yang dipertahankan guru besar yang selalu saya kagumi ini.” (N.Syamsuddin Ch.Haesy, kolumnis dan pegiat pemberdayaan masyarakat)
 
"Sejarah memang sarat dengan kepentingan. Itu sebabnya, banyak manipulasi di dalamnya. Sayangnya, kesadaran sejarah di kalangan Umat Islam sangat rendah. Padahal, dahulu kita memiliki sejarahwan-sejarahwan unggul: Thabari, Mas'udi, Ibn Hisyam, Ibn al-Atsir, Ibn Khaldun, dan masih banyak lagi. Karena itu, buku yang ditulis Prof. Mansur sangat berharga untuk menjernihkan sejarah. Semoga banyak lagi sejarahwan Islam yang memiliki kepedulian seperti Prof. Mansur." (Prof.Dr.H.Afif Muhammad,M.A, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

"Sejarah adalah pohon dan pohon yang tumbuh di hutan belantara tetapi punya identitas, sering orang yang tidak seidentitas mau memahami pohon tsb, akhirnya yang dipahami adalah cabang dan rantingnya, seangkan inti batangnya tidak, sejarah harus diakhronik tidak cukup dengan sinkronik, bukan begitu guruku?" (Aam Abdillah, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

“Prof. Mansur Suryanegaraa adalah seorang sejarawan simbolis. Ia seorang pembaca fakta simbol yang handal yang tak ada duanya di kalangan sejarawan, bahkan di seluruh dunia. Fakta sejarah di tangannya menjadi berwarna, unik, hidup, menunjukkan sisi-sisi yang tak terbaca dari sebuah fakta dan oleh karenanya sering mengejutkan. Ini yang tidak dimiliki para sejarawan lain. Sebagai pembaca simbol, ia sangat peka dengan fakat-fakta historis dan menangkapnya secara simbolik. Tapi, ini menghadirkan resiko. Bacaannya menjadi sering tak dimengerti oleh kalangan sejarawan konvensional. Buku dahsyat ini, tentu sangat historis dan berbasis tradisi ilmiah. Tapi, oleh Pak Mansur, dilengkapi dan dihidupkan dengan tatapan simbolik tersebut, menjadikannya menjadi enak dibaca, perlu bahkan wajib bagi yang ingin sejarah Indonesia sesungguhnya. Ala kulli hal, saya tahu, buku ini disuguhkan dengan penuh takzim oleh beliau kepada segmentasi masyarakat yang sangat dihormatinya; Ulama. Untuk merekalah mahakarya ini didedikasikan. Generasi pembawa risalah nubuwah yang membawa pencerahan masyarakat melalui kebenaran dan spiritual enlightenment!" (Moeflich Hasbullah, Asisten dan murid Prof.Mansur SN di Jurusan SPI UIN Bandung)

“Alhamdulillah, Kang Mansur yang sudah saya kenal sejak 82-an kini sudah melahirkan buku tentang sejarah versi beliau. Saya yakin-meski belum baca-dalam bukunya itu terdapat materi-materi yang senantiasa belaiu sampaikan dalam kuliah-kuliah LMD ata SII di Masjid Salman, ITB dan tempat lain. Tentang, betapa ummat Islam Indonesia menduduki peran yang penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Bahkan, peristiwa-peristiwa penting sejarah bangsa Indonesia dimulai dengan gerakan-gerakan dari kalangan Islam, khususnya pesantren dengan para kiyainya, semisal pemberontakan Cimareme, Garut yang mengawali perlawanan terhadap Belanda, khususnya di Jabar atau pemberontakan K.H. Zainal Mustofa di Singaparna yang mengilhami Supriyadi di Blitar untuk memberontak terhadap Jepang. Selamat pak Mansur, gaya penyampaian lisan materi sejarah Anda akan selalu saya kenang dan buku Anda ini merupakan sumbangan besar terhadap khasanah sejarah Islam di Indonesia dan tetunya sejarah Indonesia.” (Oman Abdurahman, Pegiat Studi Kebudayaan dan Sunda)

“Mungkin adalah sebuah referensi baru, dan bahkan gebrakan pembenar dari suatu kesalahan akut yang mungkin terjadi. Namun disisi lain, informasi dari sinopsis yang seolah berusaha membuka fakta tentang jungkir balik keadaan sebenarnya tanpa dukungan dari sejarawan lain (bahkan bertentangan) akan menjadi sekedar teriakan kaum minor sakit hati saja, sebab sebagaimana telah berlaku bahwa unus testis nulus testis. Betul, apalagi tak terkira jasanya bila catatan pembenar sejarah mampu meluruskan yang bengkok, memberikan penghormatan layak pada pelaku sejarah, dan mencabut bintang dari dada pihak yang tidak pantas mendapatkannya. Namun, jika hanya dari satu saja ahli sejarah, walaupun beliau dianggap memiliki kapasitas seperti itu akan tetap saja bagi sebagian pihak lain merupakan suatu langkah tendensius yang subyektif. Semoga ada sejarawan lain yang dapat mendukung informasi serupa.” ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )  

“Saya termasuk yang mengagumi sosok sejarawan mumpuni yang satu ini, selain Pak Anhar Gonggong. Dan darinya tidak jarang keluar fakta sejarah yang berbeda kalau tidak bertentangan dengan yang versi 'resmi' pemerintah. Tidak ada yang namanya kalangan minor yang sakit hati, selain dugaan dan sangkaan saja karena memang sejarawan itu ada dua; sebagaimana juga profesi lainnya, yang objektif apa adanya dan tidak bisa dibeli dan yang lawannya...” ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )  

 

Statistik Content

Content View Hits : 39848

[+]
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
  • default color
  • blue color
  • green color