|
PENULIS dan Sejarawan Prof. Ahmad Masyur Suryanegara (kanan) pemperlihatkan buku terbaru karyanya "Api Sejarah" bersama dua pembahas Ketua MUI Jabar K.H. Hafidz Utsman (kiri) dan Sesepuh Jawa Barat Tjetje Hidayat seusai acara Diskusi Buku di Aula Pikiran Rakyat Jln. Soekarno-Hatta Bandung, Selasa (10/11).

BANDUNG, (PR).- Peran ulama, para santri, dan dunia Islam pada umumnya, banyak tak tercatat dalam sejarah Indonesia. Padahal, atas peran merekalah, Indonesia dapat menjadi negara yang merdeka seperti sekarang. Banyaknya kepentingan dari penguasa membuat Islam sengaja tak dimunculkan sejak masa penjajahan dahulu hingga sekarang.
"Apalagi, kebanyakan ulama kita terlalu ikhlas. Mereka tak mau muncul. Setelah berjuang, mereka kembali ke pesantren dan lingkungannya untuk berbakti," kata sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara (77) di Aula Redaksi Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno-Hatta No. 147 Kota Bandung, Selasa (10/11). Ia mengemukakan pendapatnya dalam acara kupas buku "Api Sejarah" yang ditulisnya dan diterbitkan Salamadani Pustaka Semesta. Tampil sebagai panelis politikus senior Tjetje Hidayat Padmadinata dan Ketua MUI Jabar K.H. Hafidz Utsman.
Buku Api Sejarah yang ditulis Mansur mengemukakan sejumlah fakta sejarah yang tak pernah diungkap selama ini. Buku itu diperkuat dengan bukti-bukti kesejarahan tentang peran aktif ulama dan santri dalam upaya menegakan NKRI. Penulisan buku ini juga didasarkan keinginannya mengembalikan budaya Islam pada porsi yang sesungguhnya dalam sejarah Indonesia.
Buku ini mengungkapkan fakta-fakta baru yang sangat fenomenal dan kontroversial. Salah satunya adalah tentang pertanyaan tentang apakah Kapitan Pattimura dan Si Singamangaraja XII adalah seorang Muslim yang berjuang atas nama fi sabilillah? Atau tentang Boedi Oetomo yang justru tak menghendaki persatuan bangsa Indonesia dan tidak mencita-citakan kemerdekaan Indonesia, selain seringnya mereka mendiskreditkan Rasulullah saw. dalam pertemuan-pertemuannya.
Ditenggelamkan
"Islam telah berbuat banyak, tetapi banyak ditenggelamkan. Ulama banyak diberangus karena selalu dianggap pemberontak. Saya hanya ingin porsi yang wajar karena memang begitu seharusnya," kata Mansur yang saat mengerjakan buku mengaku tak pernah batal wudu. Menurut dia, banyak penerbit yang menolak menerbitkan tulisannya ini. Setelah diterbitkan pun, banyak pro dan kontra yang ditujukan kepadanya. Meskipun demikian, Mansur mengaku berani bertanggung jawab atas semua fakta yang diungkapkan dalam bukunya itu.
Acara kupas buku Api Sejarah mendapatkan respons dari para peserta yang memenuhi Aula Redaksi "PR", kemarin. Hadir pula sejumlah ulama sekaligus pelaku sejarah, salah satunya pendiri Pontren Babussalam, Ciburial, K.H. Muchtar Adam (72) yang menyayangkan banyaknya sejarah yang justru telah diputarbalikkan.
Sementara itu, K.H. Hafidz Utsman berpendapat bahwa sejarah tak dapat dimanipulasi. "Mudah-mudahan buku ini dapat membuka gerbang sejarah, meskipun saya yakin para ulama tak ingin peran mereka diangkat untuk dibesar-besarkan," kata Hafidz.
Senada dengan Hafidz, politikus senior Tjetje Hidayat Padmadinata menyambut baik adanya penulisan sejarah dengan ideologi Islam itu. "Harus diubah masyarakat dari paradigma lisan menjadi tulisan dan ini yang dilakukan Pak Mansur," kata Tjetje. Sumber : http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=109343
|